Halo Pembaca yang budiman, beberapa
hari ini selama liburan penulis berkunjung ke rumah orang tua di Magelang.
Selain silaturahmi dengan orang tua yang tinggal semata wayang (bapak sudah
meninggal dunia), juga ada agenda terselubung untuk bernostalgia menikmati
kuliner masakan kegemaran penulis di masa sekolah dulu.
Sup Senerek (kacang merah) Bu
Atmo, yang berisi sup kacang merah yang ditaburi bawang goreng dan bayam rebus
dan di lengkapi dengan bacam jerohan (usus) sapi. Warung Bu Atmo ini menjadi
salah satu heritage dari kota Magelang dikarenakan telah ada sejak tahun 1967.
Namun selama 3 hari menginjakkan
kaki di kota Magelang, rencana penulis untuk bersantap kuliner kolonial Belanda
ini gagal total karena selalu kehabisan ketika mendatangi warung itu sebanyak
dua kali.
Ketika penulis sudah kembali
liburan ke rumah, secara kebetulan ada teman istri yang berbaik hati membawakan
masakan sup senerek lengkap dengan suwiran daging ayam tebal ke rumah. Walaupun
beda rasa tetapi penulis cukup puas menikmati kebetulan ini.
Kita sering menemui kejadian
kebetulan-kebetulan ini selama hidup kita, entah itu memang campur tangan
Malaikat yang mendengar suara hati kecil kita lalu menyampaikan ke Tuhan
sehingga dengan KuasaNya yang tidak terhingga meluluskan keinginan kita tanpa
kita sadari. Atau memang hal itu kejadian lumrah nan wajar layaknya kejadian
alam di sekitar kita sehari-hari.
Penulis belum pernah mendengar
sebuah peneletian yang mengadakan riset ilmiah tentang kebetulan ini.
Seperti kejadian sop Senerek itu,
penulis pun menemui hal kebetulan lain yang baru saja terjadi.
Tiga hari yang lalu penulis
sempat membuat artikel yang melawan kebiasaan penulis, dengan judul
Bersama SBY Kita Bisa. Isi artikel ini banyak di kecam oleh sesama rekan
penulis juga para pembaca dikarenakan ide penulis untuk menggunakan
kemampuan seorang SBY untuk menjadi bagian dari solusi pemecahan permasalahan
krisis moral, intoleran serta politik akhir-akhir ini.
Kebanyakan mengecam artikel
penulis yang di anggap membelot menjadi pendukung SBY. Mungkin dikira 10 tahun
dirasa kurang jalan bergandengan dengan SBY. Padahal sebenarnya isi artikel itu
adalah satire yang hiperbolik. Dengan solusi menjadikan bagian dari masalah
untuk menyelesaikan permasalahan atau kongkritnya mengangkat seorang maling
yang sering beroperasi, menjadi keamanan/security pada komplek yang sama.
Dan secara kebetulan pada malam
ini di salah satu stasiun TV menayangkan wawancara dengan SBY yang berisi
Klarifikasi,Saya Anti Makar.
Seakan-akan ada yang
memberitahukan artikel penulis sebelumnya kepada SBY, sehingga perlu memberikan
klarifikasi.
Dan di lain sisi ternyata ada
sebuah kebetulan yang kedua. Kemaren Bloomberg me-release The Best
Asian-Australia Leader 2016 adalah presiden Jokowi, dan secara kebetulan hal
ini sekilas sepertinya perlu di klarifikasi oleh SBY.
Hal ini sangat terlihat pada
narasi wawancara yang dengan SBY yang menceritakan kesibukan selain hobby
bermusik selepas menjadi presiden.
Seolah ingin meng-klarifikasi
pemberian predikat The Best dari Bloomberg ini SBY menceritakan kebanggaannya
yang diminta oleh para pemimpin dunia yang dia sebut teman untuk menjadi ketua
Global Green Growth Institute.
Hal ini seolah ingin menegaskan
setelah 10 tahun berkiprah sebagai pemimpin dalam negeri, sekarang tingkatan
SBY sudah naik ke tingkat dunia. Dan predikat The Best Leader kepada Jokowi
tidak berarti apa-apa.
SBY juga menyikapi permasalahan
suhu politik yang mulai menghangat dengan mengambil sikap berpihak kepada aksi-aksi
yang dia sebut kekuatan tekad untuk mencari keadilan pada 411 dan 212.
Dia memilih cara yang
berseberangan dengan Jokowi dalam mengelola kekuatan aksi tersebut. Yaitu
dengan menemui perwakilan pihak pendemo untuk mendengarkan aspirasinya, dan
memerintahkan kepada para pembantunya para menteri dan Kapolri untuk segera
bertindak memenuhi aspirasi permintaan ganjil pendemo. Dan dalam wawancara itu
seperti biasa sewaktu menjadi Presiden dulu ungkapan solusi dia hanyalah
menyikapi tanpa solusi yang kongkrit.
Isu makar juga ditanggapinya pada
kesempatan ini dengan memposisikan dia bersama keluarga sebagai korban
pemfitnahan dan di zalimi dengan menggunakan pola strategi lama yaitu
penggunaan kosa kata yang hiperbola untuk menyangatkan suatu arti seperti fitnah, keji, (sungguh) keterlaluan.
Sehingga publik lebih tersihir ke
area itu tanpa memikirkan alasan SBY untuk menangkis tuduhan makar itu sendiri.
Sekali lagi seperti sewaktu menjadi Presiden dulu penjelasan logisnya hanyalah
penjelasan yang retoris tanpa penjelasan logis yang kongkrit.
Untuk definisi dari kata makar
itu sendiri sepertinya SBY agak kesulitan untuk mengaitkannya dengan tujuan
politis yang ingin disampaikan ke publik.
Sepertinya ada dilema dalam
dirinya waktu proses penyampaian ke publik.Di satu sisi ingin mendudukkan kata
makar itu sebagai hal yang mustahil di lakukan oleh para tokoh yang disangkakan
oleh pihak Kepolisian, namun disisi lain ada pesan yang ingin dia kesankan ke
pemerintah akan kekuatan people power.
Secara eksplisit dia ibaratkan
bahwa tindakan makar itu seperti yang dilakukan oleh Dewan Revolusi kepada Bung
Karno para medio 1965,dan peristiwa pada tahun 1998.
Penulis harap para pembaca bisa
merenungkan kedua peristiwa itu dengan pesan yang dikesankan oleh SBY.
Dan secara implisit SBY ingin
mengatakan bahwa posisi dia tidak berada dalam satu kubu dengan para penggerak
utama aksi-aksi mobilisasi massa itu khususnya FPI, dengan perbedaan pemahaman hitungan jumlah massa
yang di klaim FPI.
SBY menyebutkan perkiraan jumlah peserta
demo itu jutaan di seluruh Indonesia dan ratusan ribu pada satu titik di
Jakarta. Hal ini adalah pesan penting yang ingin dia kesankan untuk menangkis
kedekatan dia dengan ormas fenthung itu. Padahal host wawancara tidak
menanyakan hal itu.
Menuju pada konsensi 2017, sekali
lagi SBY ingin memperlihatkan superioritas prestasinya dalam hal memimpin
Indonesia dibandingkan Jokowi.
SBY menilai selama 2016,
keberhasilan pemerintahan Jokowi hanya dalam hal penciptaan stabilitas politik
yang dapat diartikan bahwa dia ingin masyarakat tahu hanya urusan politik yang
selama ini dikerjakan oleh Jokowi dengan mengumpulkan kekuatan 2/3 dari jumlah
anggota DPR.
Padahal kalau kita jeli hal ini
berarti melawan dengan pernyataan pada narasi di awal wawancara yang menyatakan
mulai bulan September stabilitas politik meningkat panas ( bukan lagi anget
seperti yang dikatakan Jokowi).
Dan untuk kekurangan pemerintahan
Jokowi, SBY melakukan penggandaan seperti Dimas Kanjeng.
Dia menyebutkan ada empat
kekurangan pemerintahan yang harus disikapi segera dengan mengucapkan please,tolong. Lucu juga lihat orang
segede itu lebay.
Yang kesatu, SBY menyoroti
pertumbuhan perekonomian era jokowi yang Cuma berkisar di 5,2% kalah dari
pencapaian pada era SBY yang ada di titik 6%.
Yang kedua adalah adanya proses
penegakan hukum yang masih tebang pilih dengan adanya intervensi
pemerintahan,sehingga masih belum dapat mendudukan hukum sebagai panglima.
Yang ketiga adalah adanya proses
penegakan hukum yang masih tebang pilih dengan adanya intervensi
pemerintahan,sehingga masih belum dapat mendudukan hukum sebagai panglima.
Inilah penggandaan yang penulis maksud.
Yang keempat, penerapan demokrasi
yang dinilai kebablasan pada era kepemimpinan Jokowi. Sehingga demokrasi hak
asasi pribadi dia nilai mulai menuju ke demokrasi yang absolut. Hal ini dia
maksudkan bahwa pemerintahan Jokowi dinilai tidak tegas terhadap aksi-aksi
ormas intoleran dan ujaran kebencian pada medsos, yang penulis prediksi akan
menjadi jalan masuk untuk menghantam pemerintahan Jokowi selanjutnya.
Pada sesi terakhir SBY
(lagi-lagi) menyoroti sikap pemerintahan Jokowi yang dinilai tidak mendukung
penuntasan permasalahan Suriah dengan ISIS secara proaktif.
Wawancara SBY ini menurut
pengamatan penulis sebenarnya bukanlah suatu bentuk klarifikasi tetapi
sebenarnya adalah suatu hantaman ke pemerintahan Jokowi.
Untuk mendapatkan kekuatan tawar
politik (bargaining politic) kembali,SBY mencoba menarik publik untuk kembali
melihat kemampuan SBY dalam memimpin lebih tinggi daripada Jokowi.
Sehingga hal ini akan mempermudah
SBY dalam mencari panggung untuk menyebar luaskan opini-opini dia untuk
kepentingan politisnya.
Di samping itu,jabatan sebagai
Ketua Umum partai dia ingin memperlihatkan ke publik bahwa SBY beserta partai
Demokrat masih merupakan kekuatan besar di Indonesia.
Sedangkan dalam hal pencalonan
AHY,malah dia mengesankan sebagai mastermind
karena pelitnya pernyataannya yang menyikapi seorang AHY.
Akhir kata,seperti artikel
penulis sebelumnya ,penulis masih belum bisa menghilangkan kesan curiga
terhadap seorang mastermind SBY.
Wasallam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar